Kamis, 15 September 2011

Pacitan Oh Pacitan

Libur akhir pekan ini, kami habiskan di daerah jawa timur paling ujung... PACITAN. Entah kenapa, suami ku sangat penasaran dengan kabupaten PACITAN, tempat kelahiran Pak SBY. Maka berangkatlah kami berdua dengan mengendarai xenia silver menuju PACITAN tepat jam 8 pagi, setelah sebelumnya aku menuntaskan tugas on air ku dan kami sarapan pagi.

Memasuki daerah Ponorogo, mata kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Berbukit, kalau didaerah malang, mirip dengan kota Batu, namun sejauh mata memandang, hanyalah hamparan pohon yang memang hidup di area kering...

Perjalanan kami kali ini penuh dengan tantangan. Bagaimana tidak, setiap terjalan, disisi sebelah kanan adalah tebing yang menjulang namun rapuh dan sangat rawan longsor, sementara ketika pandangan kita mengarah di sisi kiri jalan, yang ada hanyalah jurang, lumayan tinggi dan bisa kubayangkan, kalau malam tiba, pasti jarang yang mau melewati jalan ini...

Merapat di diperbatasan Ponorogo - Pacitan, jurang yang awalnya berada di sisi kiri jalan, perlahan berganti sungai yang cukup lebar.. Mirip sungai Gangga di india (meskipun aku sendiri belum pernah kesana heee). Indahh sekali, aku bilang indah, karena sungai ini tidak seperti sungai yang ada di daerah kami. Airnya jernih, tapi berwarna kehijauan karena didasarnya terdapat bebatuan yang lumutan...

Sejenak konsentrasi kita kembali ke daerah pacitan...
Memasuki wilayah pacitan kota, hati kami lumayan lega, karena medan yang cukup berat sudah kami lalui. Tinggal yang ada di kepala kami adalah kuliner daerah setempat, dan mencoba berkunjung ke beberapa tempat yang memang hanya ada di pacitan. Seperti sudah menjadi tradisi kami memang jarang membawa uang cash. Alhasil pertama yang kami lakukan adalah mencari ATM bank kami, karena memang itu yang kami butuhkan... Alamakkk sejauh kami berputar-putar di pusat pacitannya, tidak satupun ATM kami tersedia. Anda boleh percaya atau tidak. Entah mungkin karena jaringannya yang belum terpasang atau apa, yang jelas kami tidak menemukannya. Aneh kan, bank segedhe itu tidak membuka cabang di pacitan... Untung masih ada ATM bank lain, hingga kami memutuskan mengambil uang dari atm bank lain..

Tiba giliran wisata kuliner pun, kami masih dibutakan dengan peta area sekitar. Tidak ada petunjuk yang memberikan informasi dimana tempat berjualan makanan. Hingga kami memutuskan keluar daerah pacitan, mengingat sampai pukul 3 sore, perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi, lapar banget hehee... Tidak sampai keluar kota pacitan, akhirnya kami menemukan warung yang menyediakan masakan khas pacitan, itupun kami temukan secara tidak sengaja...


Setelah dirasa cukup semuanya, cukup kenyang dan istirahat, kami tiba tiba tidak ingin mengakhiri petualangan ini hanya dengan begini saja.. Rasa rasanya kurang puas, sebelum tau ada apa di pacitan sebenarnya... Kami kembali mengitari seputar alun-alun pacitan, sempat berpose di depan kantor bupati pacitan...


Di sudut atas papan penunjuk jalan, terpampang tulisan, pantai teleng ria, hanya berjarak 4 km... lumayan dekat dari pusat kabupaten pacitan... Kami penasaran dengan pantai teleng ria, yang katanya pernah beredar kabar, disana banyak hewan laut semacam ubur ubur yang menyebar hingga ke pantai dan beracun... 




Ternyata pantai teleng ria hampir sama dengan pantai serang (kalau di blitar).. Bedanya, pantai serang cukup jauh dari pusat kota blitar, sementara pantai teleng ria, seperti informasi di papan di tepi jalan, hanya berjarak 4 km saja... Sebenarnya sama sama juga menawarkan keindahan pantainya... hanya sayangnya dibiarkan begitu saja, sehingga beberapa area permainan terkesan kurang terawat...

Cukup puas bermain di pantai teleng ria, dengan pantai yang cukup berbahaya karena terdapat ubur-ubur yang beracun, akhirnya kami pulang kembali ke blitar, tak lupa membeli beberapa makanan, mengingat sepanjang perjalanan nantinya tidak kami temukan warung atau mini market....

Di benak saya, PACITAN meskipun kecil, agak susah dijangkau, namun sungguh tetap memberikan kesan indah, alamiah, dan penuh tantangan...

Rabu, 17 Agustus 2011

Alloh memberikan yang kubutuhkan dan bukan yang kuinginkan

Setiap orang berhak bertanya, "siapa pasangan hidupmu dan mengapa kamu memilihnya sebagai pendamping hidupmu??" Suatu saat jika pertanyaan itu jatuh kepada ku, aku pasti menjawabnya "karena dia bisa menerima aku apa adanya". Disaat banyak orang yang memperjuangkan nilai nilai cinta sejatinya, justru menurut pribadiku, cinta saja tidaklah cukup untuk membangun komitmen yang lebih serius.

MENERIMA APA ADANYA...
Pernahkah terbayang dalam benak anda, ketika tengah malam, dia tiba tiba harus kubangunkan dari tidur nyenyaknya hanya gara gara harus mengantarkanku tugas siaran malam? Umumnya orang, pasti tidak akan pernah mau bangun atau paling tidak bangun, dan mengantarkan ku dengan muka yang cemberut, tebel dan berlipat lipat... Haduhhhh... ini yang kutakutkan... Namun yang kualami sangat berbeda, begitu pelan kubangunkan, dia bangun dengan senyuman yang mengembang dibibirnya, setelah itu dia bilang "sabar yo, tak persiapan dulu..." duhhhh cowok mana yang bisa seperti ini..
Ada yang bilang "yo mesti manten anyar, semua serba indah..." emmm yang perlu diketahui, ini adalah ramadhan kedua yang telah kami lewati, artinya ini kan bukan lagi masa manten manten anyar...????

Dulu waktu pacaran, jangankan sampe sakit, terjatuh sedikit saja, pasangan kita pasti bilang "hati hati dong say... atau kata kata apalah, yang bisa mewakili" (karena masing masing pasangan punya gaya bicara yang berbeda). Namun lambat laun, setelah menikah, kata kata itu tidak lagi pernah terdengar romantis. Ya nggak??? Kadang yang ada malah, mereka cenderung menggerutu, dan mempersoalkan penyebab sakit misalnya : "makanya jangan telat makan, akibatnya magh nya kambuh kan, sudah tau punya sakit magh, malah jarang makan...!!!" atau kadang seperti ini "pasti karena kecapekan,, makanya jangan kerja saja to... "

Yang satu ini jelas ngeri kan...???? padahal siapa juga yang mau sakit? Pasti semua orang tidak mau kan...???

Namun semua itu masih sama kurasakan, sama saat kami bertemu untuk pertama kalinya dulu... Bahkan ketika aku sakit, dia tidak pernah menanyakan penyebab sakit ku itu apa... (ini yang justru membuatku mempertahankannya mati matian). Aku sadar, cara merawat sakitku, memang tidaklah sempurna, namun nilai kasih dan sayangnya, itu yang membuat dia begitu sempurna untukku.

ROMANTIS versi ku

Romantis, ada yang bilang selalu memberikan perhatian lebih kepada pasangan. Atau ada juga yang slengek an bilang rokok makan gratis... Bagiku nilai romantis itu tidak harus diungkapkan secara vulgar, misalnya selalu memeluk atau melontarkan kata "I love U" setiap saat. Jujur, hingga detik ini, dia tidak pernah secara langsung berkata "I love U" kepadaku. Awalnya menjadi masalah, namun lama lama aku sadar, bahwa cinta tidak selalu diungkapkan dengan kata kata, dan yang membuatku lega, yang telah dia lakukan untuk ku adalah lebih dari sekedar kata kata "I love U"...

Dia tidak pernah membawakanku mawar...


Dia juga tidak pernah membelikanku coklat di hari ulang tahunku...

Dia kubilang romantis,,, saat menemaniku memasak didapur, dia yang membantuku mengupas bawang dan mengiris cabe...

Dia romantis, saat membantuku membersihkan rumah kami, yang seharusnya ini adalah tugasku...

Dia selalu membanggakan ku dihadapan teman temannya, dan tidak ada rasa mengeluh sama sekali, selama menjadi suamiku... Dan masih banyak lagi nilai keromantisan yang dia miliki untukku...

Dan kata "I love U" itupun menjadi sangat sakral untuk kami...

Tulisan ini aku dedikasikan buat yang tercinta, "suamiku" sosok pilihan Alloh yang begitu sempurna untukku

Kamis, 04 Agustus 2011

Warnai Hidup Dengan Cinta



Setiap orang berhak memberikan warna dalam kehidupannya, sepanjang itu tidak merugikan orang lain dan berbenturan dengan norma norma agama dan negara, adalah sah sah saja... Karena pada dasarnya, manusia itu diciptakan dengan keanekaragamannya, yang dengan konsep itulah, membuat manusia itu gampang jenuh, bosan dan selalu menginginkan strategi baru dalam pencapaian mutu kehidupan...

Memberikan warna dalam setiap kehidupan pun sebenarnya tidak harus dengan metode yang sama, setiap coretan dari masing masing manusia itu pasti mempunyai arti dan makna yang berbeda. Si A, jelas tidak pernah sama dengan si B meski mereka menggoreskan pena yang sama dengan warna yang sama pula.. Tentu maksudnya berbeda...

Hanya saja terkadang manusia itu suka lupa, bahwa dirinya adalah makhluk sosial yang mau tidak mau harus bisa berinteraksi dengan sekitar. Kadang manusia itu terlalu mengumbar kesombongannya dan maunya menang sendiri... Ini yang menyalahi aturan. Dan meski kita tahu, kadang secara tidak sengaja kita melakukannya...

Kembali ke cara cara manusia memberikan warna dalam setiap kehidupannya. Yang paling bijak adalah memberikan warna dengan cinta kasih. Tidak harus dengan pasangan kita, kepada orang orang di sekitar kita, kepada sahabat sahabat kita.  Persoalan dalam kehidupan yang semakin rumit, akan menjadi lebih bersahabat dengan kita ketika kita melakukannya dengan cinta kasih. 

Mungkin banyak orang yang bertanya tanya, kenapa harus dengan cinta kasih? Ya dari sekian banyak survei ternyata didalam cinta kasih terdapat 'keikhlasan'. Item yang terakhir ini yang memang mutlak diperlukan. Agar manusia itu tetap bisa bersyukur dalam kehidupannya...

Rabu, 03 Agustus 2011

Ramadhan Kali Ini, membawa banyak hikmah


Saudaraku...
Mari kita jadikan ramadhan kali ini sebagai ajang untuk instropeksi diri,,, ajang perbaikan mutu ibadah, karena tahun depan kita belum pasti akan mendapati ramadhan kembali