Libur akhir pekan ini, kami habiskan di daerah jawa timur paling ujung... PACITAN. Entah kenapa, suami ku sangat penasaran dengan kabupaten PACITAN, tempat kelahiran Pak SBY. Maka berangkatlah kami berdua dengan mengendarai xenia silver menuju PACITAN tepat jam 8 pagi, setelah sebelumnya aku menuntaskan tugas on air ku dan kami sarapan pagi.
Memasuki daerah Ponorogo, mata kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Berbukit, kalau didaerah malang, mirip dengan kota Batu, namun sejauh mata memandang, hanyalah hamparan pohon yang memang hidup di area kering...
Perjalanan kami kali ini penuh dengan tantangan. Bagaimana tidak, setiap terjalan, disisi sebelah kanan adalah tebing yang menjulang namun rapuh dan sangat rawan longsor, sementara ketika pandangan kita mengarah di sisi kiri jalan, yang ada hanyalah jurang, lumayan tinggi dan bisa kubayangkan, kalau malam tiba, pasti jarang yang mau melewati jalan ini...
Merapat di diperbatasan Ponorogo - Pacitan, jurang yang awalnya berada di sisi kiri jalan, perlahan berganti sungai yang cukup lebar.. Mirip sungai Gangga di india (meskipun aku sendiri belum pernah kesana heee). Indahh sekali, aku bilang indah, karena sungai ini tidak seperti sungai yang ada di daerah kami. Airnya jernih, tapi berwarna kehijauan karena didasarnya terdapat bebatuan yang lumutan...
Sejenak konsentrasi kita kembali ke daerah pacitan...
Memasuki wilayah pacitan kota, hati kami lumayan lega, karena medan yang cukup berat sudah kami lalui. Tinggal yang ada di kepala kami adalah kuliner daerah setempat, dan mencoba berkunjung ke beberapa tempat yang memang hanya ada di pacitan. Seperti sudah menjadi tradisi kami memang jarang membawa uang cash. Alhasil pertama yang kami lakukan adalah mencari ATM bank kami, karena memang itu yang kami butuhkan... Alamakkk sejauh kami berputar-putar di pusat pacitannya, tidak satupun ATM kami tersedia. Anda boleh percaya atau tidak. Entah mungkin karena jaringannya yang belum terpasang atau apa, yang jelas kami tidak menemukannya. Aneh kan, bank segedhe itu tidak membuka cabang di pacitan... Untung masih ada ATM bank lain, hingga kami memutuskan mengambil uang dari atm bank lain..
Tiba giliran wisata kuliner pun, kami masih dibutakan dengan peta area sekitar. Tidak ada petunjuk yang memberikan informasi dimana tempat berjualan makanan. Hingga kami memutuskan keluar daerah pacitan, mengingat sampai pukul 3 sore, perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi, lapar banget hehee... Tidak sampai keluar kota pacitan, akhirnya kami menemukan warung yang menyediakan masakan khas pacitan, itupun kami temukan secara tidak sengaja...
Setelah dirasa cukup semuanya, cukup kenyang dan istirahat, kami tiba tiba tidak ingin mengakhiri petualangan ini hanya dengan begini saja.. Rasa rasanya kurang puas, sebelum tau ada apa di pacitan sebenarnya... Kami kembali mengitari seputar alun-alun pacitan, sempat berpose di depan kantor bupati pacitan...
Memasuki daerah Ponorogo, mata kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Berbukit, kalau didaerah malang, mirip dengan kota Batu, namun sejauh mata memandang, hanyalah hamparan pohon yang memang hidup di area kering...
Perjalanan kami kali ini penuh dengan tantangan. Bagaimana tidak, setiap terjalan, disisi sebelah kanan adalah tebing yang menjulang namun rapuh dan sangat rawan longsor, sementara ketika pandangan kita mengarah di sisi kiri jalan, yang ada hanyalah jurang, lumayan tinggi dan bisa kubayangkan, kalau malam tiba, pasti jarang yang mau melewati jalan ini...
Merapat di diperbatasan Ponorogo - Pacitan, jurang yang awalnya berada di sisi kiri jalan, perlahan berganti sungai yang cukup lebar.. Mirip sungai Gangga di india (meskipun aku sendiri belum pernah kesana heee). Indahh sekali, aku bilang indah, karena sungai ini tidak seperti sungai yang ada di daerah kami. Airnya jernih, tapi berwarna kehijauan karena didasarnya terdapat bebatuan yang lumutan...
Sejenak konsentrasi kita kembali ke daerah pacitan...
Memasuki wilayah pacitan kota, hati kami lumayan lega, karena medan yang cukup berat sudah kami lalui. Tinggal yang ada di kepala kami adalah kuliner daerah setempat, dan mencoba berkunjung ke beberapa tempat yang memang hanya ada di pacitan. Seperti sudah menjadi tradisi kami memang jarang membawa uang cash. Alhasil pertama yang kami lakukan adalah mencari ATM bank kami, karena memang itu yang kami butuhkan... Alamakkk sejauh kami berputar-putar di pusat pacitannya, tidak satupun ATM kami tersedia. Anda boleh percaya atau tidak. Entah mungkin karena jaringannya yang belum terpasang atau apa, yang jelas kami tidak menemukannya. Aneh kan, bank segedhe itu tidak membuka cabang di pacitan... Untung masih ada ATM bank lain, hingga kami memutuskan mengambil uang dari atm bank lain..
Tiba giliran wisata kuliner pun, kami masih dibutakan dengan peta area sekitar. Tidak ada petunjuk yang memberikan informasi dimana tempat berjualan makanan. Hingga kami memutuskan keluar daerah pacitan, mengingat sampai pukul 3 sore, perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi, lapar banget hehee... Tidak sampai keluar kota pacitan, akhirnya kami menemukan warung yang menyediakan masakan khas pacitan, itupun kami temukan secara tidak sengaja...
Setelah dirasa cukup semuanya, cukup kenyang dan istirahat, kami tiba tiba tidak ingin mengakhiri petualangan ini hanya dengan begini saja.. Rasa rasanya kurang puas, sebelum tau ada apa di pacitan sebenarnya... Kami kembali mengitari seputar alun-alun pacitan, sempat berpose di depan kantor bupati pacitan...
Di sudut atas papan penunjuk jalan, terpampang tulisan, pantai teleng ria, hanya berjarak 4 km... lumayan dekat dari pusat kabupaten pacitan... Kami penasaran dengan pantai teleng ria, yang katanya pernah beredar kabar, disana banyak hewan laut semacam ubur ubur yang menyebar hingga ke pantai dan beracun...
Ternyata pantai teleng ria hampir sama dengan pantai serang (kalau di blitar).. Bedanya, pantai serang cukup jauh dari pusat kota blitar, sementara pantai teleng ria, seperti informasi di papan di tepi jalan, hanya berjarak 4 km saja... Sebenarnya sama sama juga menawarkan keindahan pantainya... hanya sayangnya dibiarkan begitu saja, sehingga beberapa area permainan terkesan kurang terawat...
Cukup puas bermain di pantai teleng ria, dengan pantai yang cukup berbahaya karena terdapat ubur-ubur yang beracun, akhirnya kami pulang kembali ke blitar, tak lupa membeli beberapa makanan, mengingat sepanjang perjalanan nantinya tidak kami temukan warung atau mini market....
Di benak saya, PACITAN meskipun kecil, agak susah dijangkau, namun sungguh tetap memberikan kesan indah, alamiah, dan penuh tantangan...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar